
Universitas Muhammadiyah Parepare (UMPAR) mengembangkan formulasi mie berbahan kombinasi daun kelor (Moringa oleifera) dan belut (Monopterus albus) sebagai alternatif pangan fungsional untuk mendukung pencegahan stunting pada balita. Penelitian tersebut dilakukan pada 2024 di Kota Parepare dan Kabupaten Sidenreng Rappang dengan melibatkan 34 balita sebagai sampel penelitian.
Penelitian dilakukan oleh Usman, Zulkarnain Sulaiman, dan Fitriani Umar menggunakan metode quasi eksperimen dengan rancangan one-group pre-test and post-test design. Tim mengembangkan formulasi mie di Laboratorium Gizi UMPAR, kemudian memberikan produk tersebut kepada kelompok perlakuan selama satu bulan untuk melihat perubahan kondisi dan status gizi balita.
Sebanyak 34 balita dibagi menjadi dua kelompok, yakni 17 balita kelompok perlakuan dan 17 balita kelompok kontrol. Kelompok perlakuan memperoleh mie kombinasi daun kelor dan belut selama satu bulan, sedangkan kelompok kontrol mendapatkan makanan biasa.
Selama penelitian, tim memantau perkembangan kesehatan dan status gizi kedua kelompok. Parameter yang diamati meliputi berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala, disertai pengukuran status gizi sebelum dan sesudah intervensi.
Dari aspek penerimaan produk, penelitian mencatat respons positif dari subjek terhadap mie yang dikembangkan. Dokumen penelitian menyebut, “subjek penelitian sangat menyukai warna dan tekstur mie berbahan kelor dan belut.”
Sementara itu, penilaian terhadap aroma dan rasa menunjukkan hasil yang berbeda. Dokumen mencatat bahwa kedua aspek tersebut memperoleh penilaian dalam kategori cukup suka, sehingga penerimaan terhadap produk tidak hanya dilihat dari kandungan bahan, tetapi juga karakteristik organoleptiknya.
Pengembangan mie tersebut sekaligus menjadi bentuk diversifikasi pangan dengan memanfaatkan bahan pangan lokal. Dalam dokumen penelitian disebutkan, “Daun kelor dikenal sebagai salah satu sumber pangan yang memiliki kandungan zat gizi, sementara belut merupakan sumber protein hewani yang dapat diolah menjadi bahan pangan alternatif.”
Pemanfaatan kedua bahan tersebut kemudian diformulasikan menjadi produk mie yang diharapkan lebih mudah diterima sebagai pangan alternatif. Pendekatan ini menempatkan bahan pangan lokal sebagai bagian dari upaya pengembangan pangan fungsional yang dapat digunakan untuk mendukung perbaikan gizi.
Penelitian tersebut dilaksanakan melalui tahapan pembuatan produk dan pemberian intervensi kepada kelompok perlakuan. Pemantauan berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, serta status gizi sebelum dan sesudah intervensi dilakukan untuk melihat perubahan yang terjadi selama penelitian.
Tim peneliti berharap formulasi yang dikembangkan dapat menjadi salah satu alternatif pangan fungsional berbasis bahan pangan lokal. Dokumen penelitian menyatakan, “Melalui formulasi tersebut, penelitian diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif dalam pengembangan pangan fungsional berbasis bahan pangan lokal yang dapat mendukung upaya perbaikan gizi dan pencegahan stunting.”
Penelitian ini juga mendapat dukungan pendanaan dari Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia pada 2024. Tim peneliti menyampaikan apresiasi kepada pihak-pihak yang membantu pelaksanaan penelitian tersebut.
Pengembangan mie berbahan kelor dan belut menunjukkan upaya UMPAR memanfaatkan potensi pangan lokal dalam inovasi produk bergizi. Hasil penelitian ini selanjutnya diharapkan dapat menjadi bagian dari pengembangan pangan fungsional yang mendukung perbaikan gizi dan upaya pencegahan stunting pada balita. (*/AR)
#ResonaSaintek #SemestaSaintek