KetFot : Makhrajani Majid, S.KM., M.Kes selaku Ketua Tim saat Olah Kelor dan Lele Menjadi Pancake Bergizi
Parepare - Universitas Muhammadiyah Parepare (UMPAR) melalui tim peneliti mengembangkan pancake berbahan daun kelor (Moringa oleifera) dan ikan lele (Clarias gariepinus) sebagai inovasi pangan lokal untuk mendukung pencegahan stunting. Penelitian tersebut mengembangkan pangan tambahan dengan memanfaatkan dua bahan pangan yang dinilai memiliki potensi sumber zat gizi.
Penelitian berjudul “Efektivitas Pemberian Moringa oleifera dan Clarias gariepinus dalam Bentuk Sediaan Pancake sebagai Inovasi Pencegahan Stunting” dipimpin Makhrajani Majid bersama Fitriani Umar dan Fitri Indah Yani. Pengembangan produk dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan pencegahan stunting melalui pendekatan gizi, pemanfaatan pangan lokal, penerimaan masyarakat, dan keberlanjutan di tingkat keluarga.
Ketua peneliti Makhrajani Majid menjelaskan bahwa penelitian tersebut berangkat dari kebutuhan untuk mendorong pencegahan stunting sejak dini melalui bahan pangan yang tersedia di lingkungan masyarakat. “Penelitian ini berangkat dari gagasan bahwa pencegahan stunting perlu dilakukan sejak dini dengan memanfaatkan sumber pangan yang tersedia di lingkungan masyarakat,” ujar Makhrajani Majid.
Menurut Makhrajani, daun kelor dan ikan lele kemudian dikembangkan dalam bentuk pangan yang lebih menarik dan mudah dikonsumsi keluarga. Ia mengatakan, “Kelor dan ikan lele memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi pangan yang lebih menarik, mudah dikonsumsi, dan dapat diterima oleh keluarga.”
Daun kelor dipilih karena dikenal sebagai bahan pangan lokal yang mengandung berbagai zat gizi dan berpotensi mendukung diversifikasi pangan. Sementara itu, ikan lele dinilai relatif mudah diperoleh, dibudidayakan, dan dikonsumsi masyarakat sehingga dapat menjadi sumber protein hewani dalam pengembangan produk tersebut.
Tim peneliti mengolah kombinasi daun kelor dan ikan lele dalam bentuk pancake untuk meningkatkan daya tarik pangan, khususnya bagi kelompok sasaran yang membutuhkan asupan gizi. Pengembangan produk dilakukan melalui beberapa variasi komposisi ikan lele, kemudian setiap formulasi dianalisis berdasarkan kandungan zat gizi dan penerimaannya melalui pengujian organoleptik.
Hasil analisis laboratorium menunjukkan adanya perbedaan kandungan zat gizi pada berbagai formulasi pancake. Salah satu formulasi dengan penambahan 100 gram ikan lele memiliki kandungan protein 6,95 gram, lemak 6,69 gram, karbohidrat 19,76 gram, dan zat besi 1,02356 miligram per 100 gram produk.
Temuan tersebut menunjukkan potensi formulasi pancake berbasis kelor dan ikan lele sebagai alternatif pangan tambahan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan zat gizi. Kandungan protein dan zat besi menjadi salah satu aspek yang diperhatikan karena berkaitan dengan kebutuhan gizi dalam proses pertumbuhan anak.
Namun, peneliti menegaskan bahwa produk tersebut tidak dimaksudkan sebagai pengganti makanan utama maupun pengganti intervensi kesehatan lainnya. Pancake kelor dan ikan lele ditempatkan sebagai salah satu alternatif diversifikasi pangan untuk memperkuat asupan gizi keluarga.
Selain kandungan gizi, penelitian memperhatikan tingkat penerimaan produk melalui aspek organoleptik. Pengujian meliputi warna, aroma, rasa, tekstur, dan tingkat kesukaan karena produk pangan yang dikembangkan untuk konsumsi berkelanjutan perlu memiliki karakteristik sensorik yang dapat diterima konsumen.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pencegahan stunting tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kandungan nutrisi. Tim peneliti juga mempertimbangkan preferensi pangan, budaya makan, ketersediaan bahan, kemampuan ekonomi keluarga, serta kemudahan pengolahan di tingkat rumah tangga.
Makhrajani mengatakan pengembangan produk tersebut memiliki tujuan yang lebih luas daripada sekadar menghasilkan pancake. “Yang ingin dibangun bukan hanya sebuah produk pancake, tetapi sebuah pendekatan bahwa bahan pangan lokal dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan berpotensi mendukung program perbaikan gizi masyarakat,” jelasnya.
Pernyataan tersebut menempatkan pemanfaatan pangan lokal sebagai bagian dari pendekatan pencegahan stunting yang lebih luas. Menurut peneliti, upaya tersebut membutuhkan keterlibatan keluarga, tenaga kesehatan, pemerintah daerah, akademisi, sektor pangan, dan masyarakat.
Penelitian pancake kelor dan ikan lele juga belum ditempatkan sebagai tahap akhir pengembangan intervensi. Tim menyebut penelitian lanjutan diperlukan untuk melihat efektivitas konsumsi produk terhadap indikator pertumbuhan dan status gizi kelompok sasaran melalui desain penelitian yang sesuai.
Kebutuhan penelitian lanjutan tersebut berkaitan dengan karakter stunting yang bersifat multifaktorial. Pertumbuhan anak tidak hanya dipengaruhi asupan makanan, tetapi juga pola pengasuhan, kondisi kesehatan, sanitasi dan lingkungan, ketahanan pangan keluarga, kondisi sosial ekonomi, serta akses terhadap pelayanan kesehatan.
Melalui pengembangan pancake berbahan daun kelor dan ikan lele, UMPAR menawarkan salah satu alternatif pendekatan preventif yang menghubungkan ilmu gizi, kesehatan masyarakat, inovasi pangan, dan potensi sumber daya lokal. Ke depan, hasil penelitian tersebut diharapkan dapat menjadi dasar bagi penelitian lanjutan sekaligus mendukung pengembangan model intervensi gizi berbasis pangan lokal yang berkelanjutan. (*/AR)

#ResonaSaintek #SemestaSaintek