
Penelitian tersebut dipimpin Dr. Nurhapsa, S.P., M.Si., dosen dan peneliti senior Agribisnis Fakultas Pertanian, Peternakan dan Perikanan UMPAR. Kajian berjudul Perubahan Iklim dan Dinamika Risiko Produksi Usahatani Sayuran di Kabupaten Enrekang: Kajian Adaptasi dan Mitigasi itu menggunakan survei, wawancara mendalam, serta analisis risiko produksi melalui ragam, simpangan baku, dan koefisien variasi.
Hasil analisis menunjukkan nilai koefisien variasi (KV) produksi sayuran mencapai 0,97. Angka tersebut berada di atas ambang 0,5 yang dalam penelitian dikategorikan sebagai risiko produksi tinggi, sementara rata-rata produksi petani tercatat 4.186,36 kilogram dengan simpangan baku 4.089,44 kilogram.
Nurhapsa mengatakan perubahan pola musim menjadi salah satu persoalan yang paling dirasakan petani sayuran. “Kondisi iklim beberapa tahun terakhir itu berubah signifikan. Musim kemarau jadi lebih panjang, musim hujan jadi pendek. Ini yang bikin petani sayur kita paling terpukul,” tegas Nurhapsa.
Menurut hasil penelitian, perubahan kondisi iklim dapat mengganggu produksi tanaman sayuran karena komoditas hortikultura sangat bergantung pada kestabilan lingkungan. Kondisi tersebut juga diperburuk oleh peningkatan suhu, perubahan curah hujan, serta kejadian cuaca ekstrem yang meningkatkan kerentanan tanaman terhadap hama dan penyakit.
Di tengah risiko tersebut, petani telah menerapkan sejumlah strategi mitigasi. Sebanyak 35,71 persen petani menggunakan varietas tahan iklim, sedangkan 34,29 persen mengombinasikan penggunaan varietas tahan iklim, perubahan jadwal tanam, serta penggunaan pupuk dan pestisida sesuai anjuran.
Nurhapsa menilai petani tidak tinggal diam menghadapi perubahan kondisi tersebut. “Petani kita itu pintar, mereka tidak diam. 35 persen sudah pakai varietas tahan iklim. Tapi risikonya tetap tinggi, jadi butuh pendampingan teknologi,” tambahnya.
Selain mitigasi, petani juga menerapkan strategi adaptasi melalui penggunaan bibit tahan iklim dan diversifikasi tanaman. Data penelitian menunjukkan 41,43 persen responden mengombinasikan bibit tahan iklim dengan penanaman berbagai jenis tanaman dalam satu lahan, sedangkan 32,86 persen menggunakan bibit yang tahan terhadap kondisi iklim.
Peneliti juga mencatat sejumlah bentuk adaptasi lain, seperti rotasi tanaman, pembuatan guludan, dan pengelolaan air secara efisien. Pengelolaan air menjadi salah satu bagian penting karena ketersediaan air menjadi faktor yang berpengaruh terhadap keberlangsungan produksi ketika periode kering berlangsung lebih panjang.
Karakteristik responden turut menggambarkan kondisi petani yang menghadapi risiko tersebut. Dari 70 responden, rata-rata usia petani mencapai 49,6 tahun dengan kelompok usia 41–60 tahun mencapai 71,43 persen, sedangkan 48,6 persen responden merupakan lulusan SMA.
Dari sisi kepemilikan lahan, sekitar 50 persen responden mengelola lahan kurang dari 0,5 hektar dan masuk kategori petani gurem. Kondisi lahan yang relatif sempit dapat berkaitan dengan keterbatasan skala ekonomi serta akses terhadap sarana produksi dan teknologi pertanian.
Proses pengumpulan data juga menghadapi tantangan di lapangan. Sebagian besar petani lebih nyaman menggunakan bahasa lokal Duri atau Enrekang, sementara aktivitas mereka di kebun pada siang hari membuat peneliti harus menyesuaikan waktu wawancara hingga malam hari.
“Wawancaranya harus malam hari, di rumah petani, pakai bahasa lokal. Kalau siang mereka semua ada di kebun. Dari situ saya lihat betapa kerasnya perjuangan mereka,” ungkap Nurhapsa. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses penelitian untuk memperoleh informasi mengenai kondisi usahatani dan pengalaman petani menghadapi perubahan iklim.
Penelitian juga mencatat dampak perubahan iklim terhadap keberlanjutan usaha tani tidak hanya berkaitan dengan produksi, tetapi juga kondisi ekonomi petani kecil. Laporan penelitian menyebut perubahan iklim berpotensi menurunkan pendapatan riil rumah tangga petani, terutama karena keterbatasan akses terhadap teknologi adaptasi dan mitigasi.
Untuk mengurangi risiko tersebut, peneliti merekomendasikan penggunaan bibit tahan iklim, diversifikasi tanaman, tumpang sari, pembuatan guludan, dan pengelolaan air melalui embung sebagai bagian dari strategi adaptasi. Sementara itu, strategi mitigasi mencakup penyesuaian jadwal tanam, penggunaan pupuk dan pestisida sesuai anjuran, serta pelatihan perencanaan tanam dan pengelolaan air.
Peneliti berharap hasil kajian tersebut dapat menjadi bahan bagi pemerintah daerah dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam menyusun pelatihan manajemen tanam dan pengelolaan air yang lebih sesuai dengan kondisi petani. Tahap berikutnya diarahkan untuk mengidentifikasi lebih jauh risiko usahatani serta pengaruh perubahan iklim terhadap produktivitas sayuran di Kabupaten Enrekang, termasuk pengembangan model usahatani sayuran tahan iklim berbasis inovasi adaptasi. (*/RS)
#ResonaSaintek #SemestaSaintek