KetFot : pemaparan materi oleh Prof. Dr. Sriyanti Mustafa, S.Pd., M.Pd pada FGD Skema Penelitian Pundamental yang di dampingi oleh Dr. Nurismirawati, S.Pd., M.Pd
PAREPARE — Universitas Muhammadiyah Parepare (UMPAR) mengembangkan model pembelajaran berbasis permainan tradisional yang mengintegrasikan Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics (STEAM), nilai budaya lokal, serta keterampilan abad ke-21.

Pengembangan tersebut dilakukan melalui penelitian yang salah satu tahapannya melibatkan 21 guru SMP Negeri di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) pada Agustus 2026.

Penelitian ini bertujuan menjadikan permainan tradisional sebagai sumber belajar yang kontekstual dan terstruktur, sekaligus membantu guru menghubungkan pengalaman bermain siswa dengan konsep akademik di sekolah.

Peneliti UMPAR, Dr. Nur Ismirawati, S.Pd., M.Pd., mengatakan pengembangan model tersebut berangkat dari perubahan pola bermain anak yang kini semakin dekat dengan permainan berbasis teknologi.

“Siswa saat ini lebih mengenal permainan online dibandingkan permainan tradisional,” kata Nur Ismirawati dalam rangkuman wawancara yang disusun Tim Resona Saintek UMPAR.

Menurut dia, permainan tradisional memiliki potensi besar untuk mendukung pembelajaran karena melibatkan aktivitas fisik, strategi, interaksi sosial, dan pemecahan masalah.

“Sangat menarik karena melibatkan gerak dan strategi dalam permainan,” ujarnya.

Permainan tradisional jadi sumber belajar

Dalam penelitian tersebut, tim UMPAR mengeksplorasi sejumlah permainan tradisional di Kabupaten Pangkep untuk mengidentifikasi keterkaitannya dengan berbagai mata pelajaran.

Beberapa permainan yang dikaji antara lain Gandrang Bulo, magasing-gasing, gasing, longga, dan macengke.

Hasil pemetaan menunjukkan, permainan tradisional dapat dihubungkan dengan beragam konsep akademik. Dalam pembelajaran IPA, misalnya, guru dapat mengaitkan aktivitas bermain dengan konsep gaya, gerak, putaran, keseimbangan, dan pesawat sederhana.

Sementara itu, dalam pembelajaran matematika, permainan tradisional berpotensi digunakan untuk mengenalkan konsep ukuran, bilangan, perbandingan, simetri, dan kekongruenan.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa permainan tradisional tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga dapat menjadi konteks pembelajaran yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa.

Meski demikian, pemanfaatannya membutuhkan perencanaan pembelajaran yang jelas. Guru perlu mengarahkan aktivitas bermain melalui eksplorasi, pengaitan dengan konsep akademik, pemecahan masalah, hingga refleksi agar siswa memperoleh pengalaman belajar yang bermakna.

Nur Ismirawati mengatakan, penelitian ini diharapkan dapat membantu guru mengintegrasikan permainan tradisional ke dalam proses pembelajaran secara lebih sistematis.

“Penelitian ini juga diharapkan menjadi penghubung kepada guru-guru di sekolah untuk memudahkan mereka mengajarkan permainan tradisional ke dalam pembelajaran,” katanya.

Kembangkan model pembelajaran BULO

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, tim peneliti menyusun prototipe model pembelajaran yang diberi nama BULO, singkatan dari Budayakan, Ulas, Lakukan, dan Olah.

Model BULO dirancang untuk mengarahkan permainan tradisional menjadi rangkaian kegiatan belajar yang mengintegrasikan budaya lokal, pendekatan STEAM, dan keterampilan abad ke-21.

Tahap Budayakan berfokus pada pengenalan permainan tradisional beserta latar belakang budaya yang menyertainya.

Tahap Ulas mengajak siswa mengidentifikasi dan menganalisis konsep pembelajaran yang terkandung dalam permainan.

Berikutnya, tahap Lakukan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempraktikkan permainan, melakukan eksperimen, serta membuat atau memodifikasi alat permainan.

Adapun tahap Olah mengarahkan siswa mengolah pengalaman yang diperoleh, menyusun kesimpulan, dan mengomunikasikan hasil pembelajaran.

Melalui tahapan tersebut, siswa diharapkan tidak hanya memahami materi pelajaran secara teoretis, tetapi juga mampu menghubungkannya dengan pengalaman langsung dan lingkungan budaya mereka.

Model ini juga membuka peluang pengembangan keterampilan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi. Keterampilan tersebut dapat diasah ketika siswa menganalisis aturan permainan, menyusun strategi, menyelesaikan masalah, bekerja dalam kelompok, dan mempresentasikan hasil kegiatan.

Dorong pelestarian budaya lokal

Selain berorientasi pada pembelajaran, penelitian UMPAR tersebut turut menempatkan pelestarian budaya sebagai bagian dari proses pendidikan.

Berdasarkan wawancara dengan budayawan, sejumlah permainan tradisional masih dikenal dan dimainkan masyarakat. Namun, intensitas permainannya tidak lagi sama seperti sebelumnya. Sebagian permainan kini lebih banyak dijumpai dalam perlombaan, kegiatan sekolah, agenda instansi, maupun kegiatan pelestarian budaya.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya menghadirkan kembali permainan tradisional melalui lingkungan pendidikan.

Dengan melibatkan guru dan siswa, permainan lokal diharapkan dapat terus dikenalkan kepada generasi muda sekaligus dikembangkan sebagai media pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan pendidikan masa kini.

Prototipe BULO masuk tahap validasi

Hingga laporan kemajuan penelitian tahun pertama, tim UMPAR telah menghasilkan prototipe awal model pembelajaran BULO. Tahapan berikutnya mencakup validasi ahli atau expert judgment, analisis validitas menggunakan Aiken’s V, serta revisi prototipe berdasarkan masukan para validator.

Hasil validasi tersebut akan menjadi dasar penyempurnaan model sebelum memasuki tahapan penelitian tahun kedua.

Penelitian ini juga menghasilkan luaran tambahan berupa buku referensi berjudul Belajar, Bermain, dan Berbudaya: Permainan Tradisional Pangkep dalam Pembelajaran STEAM, yang diterbitkan UMPAR Press dengan ISBN 978-623-7257-29-5.

Selain buku referensi, tim peneliti menargetkan publikasi artikel internasional sebagai salah satu luaran akademik tahun pertama.

Melalui pengembangan model BULO, UMPAR berharap permainan tradisional dapat memperoleh ruang yang lebih luas dalam pembelajaran di sekolah. Dengan demikian, warisan budaya lokal tidak hanya dipertahankan sebagai bagian dari identitas masyarakat, tetapi juga dimanfaatkan sebagai sumber belajar untuk membangun pengetahuan, kreativitas, dan keterampilan siswa. (*/AR)