
Produksi kompos dilakukan dengan memanfaatkan limbah kulit buah kakao yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Bahan tersebut kemudian dikombinasikan dengan sejumlah material organik lainnya untuk menghasilkan kompos berkualitas yang menjadi bahan utama dalam pembuatan Biohumic.
Anggota tim Rispro sekaligus Koordinator dan Manajer Produksi, Abd Rahim, M.P, menjelaskan bahwa setiap satu batch produksi membutuhkan sekitar dua ton bahan organik. Bahan tersebut terdiri atas kulit buah kakao, sekam, biochar, dedak, dan dolomit.
“Untuk satu kali batch produksi, kami membutuhkan sekitar dua ton bahan organik yang kemudian dikomposkan selama 30 hari. Setelah proses pengomposan selesai, bahan akan diekstraksi menggunakan biourin sapi untuk menghasilkan Biohumic,” ujar Abd Rahim.
Ia menambahkan, dalam satu kali proses produksi, tim mampu menghasilkan sekitar 3,5 ton atau setara 5.000 liter pupuk organik Biohumic. Produk tersebut diharapkan dapat menjadi solusi bagi kebutuhan pupuk organik yang ramah lingkungan sekaligus mendukung peningkatan produktivitas sektor pertanian.
Melalui keterlibatan tersebut, mahasiswa memperoleh pengalaman langsung mengenai pengelolaan limbah pertanian, teknologi pengomposan, hingga proses produksi pupuk organik yang memiliki nilai ekonomi dan manfaat lingkungan.
Sementara itu, proses produksi kompos dan biochar terus dilakukan secara berkelanjutan di bawah koordinasi Pusat Teknologi dan Inovasi Karbon dan Biomassa Pertanian (Pustikabin) Umpar. Pusat riset tersebut menjadi salah satu motor pengembangan inovasi berbasis biomassa pertanian yang mendukung agenda pertanian berkelanjutan dan ekonomi sirkular.
Pengembangan Biohumic berbahan baku kulit buah kakao ini diharapkan tidak hanya mampu meningkatkan nilai tambah limbah pertanian, tetapi juga memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, industri, dan masyarakat dalam menghasilkan inovasi yang berdampak bagi sektor pertanian nasional. (/AR)